Dalam sepekan terakhir ini sudah ada lebih dari dua kabar duka, almarhum bokap temen yang tiba-tiba meninggal saat pulang kerja, temen bokap gw yang biasa maen kerumah, dan dua jam sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya sempet ngobrol via mobilephone dulu sama papa, salah satu saudara jauh gw yang masih teramat sangat muda dan gw yakin masih punya segudang impian dan termasuk salah satu pemuda harapan bangsa yang akhirnya juga ikut pergi menghadap sang Esa.
Dan...manusia lainnya yang gw yakin setiap detik, sang penyabut nyawa melakukan tugasnya dengan baik untuk mencabut nyawa-nyawa manusia yang sudah habis masa kontraknya.
Trus.. kapan waktu gw tiba? kapan waktu mu tiba? kapan?
Pasti gak ada yang bisa jawab, bahkan seorang penderita HIV-AIDS dan kanker stadium 4 yang sudah divonis dokter 3 bulan lagi meninggal pun, pasti tidak tahu kapan tepatnya masa kontrak nyawanya habis.
Ketika ditanya, pernahkah berfikir tentang mati?
atau..
Sudah siapkah jika tiba-tiba mati?
Untuk jawaban pertanyaan pertama... kemungkinan sebagian akan bilang tidak dan sebagian iya..
yang jawab tidak, mungkin masih merasa dirinya cukup muda dan merasa gemerlap dunia dan orientasi masa depan adalah yang jadi prioritas.. seperti kata salah seorang teman yang bilang "hidup cuma sekali, seneng2 aja dulu, kalo dah mati kan gak bisa seneng2 lagi.."
Dan yang menjawab iya.. mungkin ada faktor iman akan adanya hari akhir dan Tuhan atau mungkin karena sedang ada masalah, yang membuat dia merasa "kayaknya bentar lagi gw lewat nich".
But.. Whatever..
dipikirkan atau tidak dipikirkan, siap atau tidak siap...
satu kenyataan yang kita semua pasti sadar atau tidak, pasti mengiyakan masa itu pasti datang.. menit berikutnya, jam berikutnya, hari berikutnya, minggu berikutnya, bulan berikutnya, atau tahun-tahun berikutnya. Tapi.. masa itu pasti datang.
Teringat pesan papa..
"Terserah sejahat apa orang pada kita, terserah bagaimana sikap orang pada kita.. Kita harus tetap berbuat baik sama siapa saja, mau orang itu baik, jahat, berkulit hitam, putih, cantik, jelek, kaya, miskin, ustadz, bahkan penjahat sekalipun. Kita harus tetap baik. Karena, masa terlama kita bukan disini kak.. tapi di akhirat," ucap papa, setiap kali duduk bareng pulang kerja.
beberapa kali suka merasa bosan dengan kata-kata itu, karena itu selalu diucapkan sejak gw kecil, entah itu di usia berapa. Tapi ternyata justru kata-kata itulah yang akhirnya bisa membuat gw tegar dalam menghadapi terpaan dunia.
"Trims Pa.. Kakak sayang Papa. Trima kasih karena dah membuat dis ada di dunia, trima kasih karena dah sayang sama mama dan dis, terima kasih karena telah memberikan pelajaran yang berharga tentang hidup, terima kasih atas teladan kejujuran yang selalu papa tunjukkan dan buktikan, terima kasih karena tetap menjadi contoh teladan, dimana teladan diluar sana satu persatu bermetamorfosa dengan kikisan jaman dan himpitan kebutuhan dunia. Tenang pa.. Kakak inget selalu pesan Papa. Love you".
Selasa, 24 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
selamat berkomentar ria... 3 kali koment, gratis satu ucapan "Makasih"